Free Web Counter
Free Web Counter
Catatan Harian : Lebaran, di Jakarta

Ditengah hiruk pikuk suasana stasiun gambir,
Di dalam stasiun, semua orang sedang menanti kedatangan keretanya.
Kumandang takbir menggema dari masjid sekitar.
Dan keluarga kami yang barusan sampai. Sibuk membersihkan diri, bersiap melaksanakan Shalat Ied.

Saya duduk diam di samping masjid.
Ketika menemukan sorang anak yang tertidur di atas tanah, berselimut karung goni, dibawah pepohonan, dekat barang rongsokan.
Sang ibu kemudian datang, tak lama kemudian. Sepertinya menyampaikan sepatah dua patah kata pada anaknya. Kemudian berlalu, membawa mukenah, sepertinya hendak melaksanakan shalat pula. Meninggalkan putrinya yang kembali terlelap.

Sementara di samping saya, nampak sebuah keluarga dengan seragam fitri, putih bersih. Bahagia, berfoto ria.
Mobil-mobil mewah terparkir, mengantarkan majikannya.

Bajaj biru baru saja lewat.

Lebaran, di Jakarta.

Jakarta, 28 Juli 2014
@jamikanasa
Lebaran ketiga kalinya, hanya mampu merenung, mendengar merdu suara takbir.

Setulus hati mengucapkan,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H
Mohon maaf lahir dan batin yaa.
Dari Kabinet,
Semangat Selaraskan Pergerakan, Satu Indonesia.
Dari KISR,
#dekatmenebarmanfaat
Dari saya,
#bisabanget kan saling memaafkan #eh

Selamat lebaran, selamat bercumbu mesra dengan sanak keluarga, sang cinta pertama.

Cinta Pertama

Hari ini, dalam sebuah perjalanan menuju stasiun kereta api bersama keluarga tetangga saya, saya memikirkan sebuah hal. Sesuatu yang setiap hari saya temui, saya hadapi. Ia adalah yang pertama menemukan saya, membimbing dan melindungi diri saya. Yang pertama mengajari saya banyak hal. Dan semua orang pasti memilikinya, meski tak pernah sama. Tapi saya yakin betul, dia lah pelajaran pertama dalam hidup setiap insan manusia : Keluarga.

Semua orang pasti tahu, bahwa keluarga adalah sekolah utama dan pertama. Dari sekian tahun saya menghirup udara dunia, baru kali ini saya memikirkan betul, bahwa keluarga adalah sarana pembelajaran pertama kita—yang baru saja terlahir di dunia—untuk mempelajari tentang cinta.

Dalam hidup saya sampai kini, saya banyak dikelilingi oleh berbagai macam keluarga. Meski hidup dalam lingkungan yang serupa, setiap keluarga memiliki dan memilih hidup dengan cara serta langkah yang sama sekali berbeda. Entah dari kebiasaan yang melekat pada setiap kelompoknya, pendidikan, penurunan nilai, pengambilan keputusan dan cara menyikapi permasalahan. Tapi semua seakan memiliki satu persamaan, kesepakatan tak tertulis yang diakui dan dijalani oleh setiap insan dalam segala macam keluarga. Lagi-lagi, ia adalah cinta.

Cinta dalam sebuah keluarga, tumbuh dengan cara yang sangat alami, tanpa syarat dan tendensi. Ia mengalir dari sebuah muara yang murni, sehingga alirannya bening dan jernih. Tak pernah berhenti, tak akan bisa, dan tak akan ada yang bisa memberhentikan alirannya. Semakin terjal jalur alirannya, semakin jernih ia. Semakin jauh ia mengalir dari muaranya, ia tahu, suatu hari nanti ia akan pulang. Ke laut. Bersemai tenang bersama ibundanya, ayahanda, kerabat dan sanak saudara. Cinta pertamanya.

Semakin saya memahami, mengapa ibunda tak pernah membenci anak gadisnya yang satu ini, meski telah berulang kali membuatnya susah. Ayahanda yang tetap mematikan lampu kamar dan mencium kening putranya, meski selalu diabaikan nasihatnya. Seorang istri yang begitu mencintai profesinya, tetapi ia rela meninggalkan segala kesibukan diluar rumah tangganya demi suami dan buah hatinya. Seorang suami yang akan selalu menjaga bidadari-bidadarinya—istri dan putrinya—meski lelah raganya, meski tak kuasa lengan kokohnya menopang beban amanahnya. Seorang anak yang akan terus mengidolakan ayahandanya, meski tak pernah ayah membelai lembut rambutnya atau bahkan, tersenyum padanya.

Kita akan selalu memaafkannya. Kita akan selalu menerima segala kekurangan dan kelemahannya. Kita akan selalu menyambutnya ketika pulang. Kita akan selalu ada untuknya, menjadi yang pertama mendengar dan mengetahui suka dukanya. Kita akan selalu cinta, bagaimanapun adanya.

Kitalah yang selalu termaafkan. Kitalah yang lemah tapi tak pernah tampak lemah dimatanya. Sejauh apapun kita pergi, kita tau ada yang sedang menunggu dirumah. Dari sanalah bekal segala energi, mengarungi hidup baru, menemukan dan mencipta cinta pertama dalam generasi-generasi berikutnya.

Tidak ada yang pernah mengajari. Atau merangkumnya dalam sebuah diktat untuk kita baca dan pahami. Seperti kabut dan mentari pagi, indahnya terpancar alami. Seperti embun, butirannya jernih lagi suci.

Kita akan selalu menemukannya. Tempat segala pencapaian hidup bermuara. Terbayar lelah dan penat hanya dengan satu senyumnya. Atau kehadirannya, meski tak bermateri. Tak punya apa-apa.

Kita akan selalu pulang padanya. Tempat pertama kali cinta dan kasih bersemayam dan mengisi relung jiwa kita.

Keluarga. Cinta pertama.
Semoga dipertemukan kembali, utuh, dalam Firdaus-Nya, nanti.

Kereta Api, 27 Juli 2014 
@jamikanasa
Ditulis sambil duduk manis disamping ibunda, dalam perjalanan menuju cinta pertama sang ibunda.

“Jatuh cintalah pada dia yang menghargai duniamu, dan kau tak perlu menenteng topeng setiap kali hendak bertemu dengannya.”
—(via jalansaja)

(via ashrirs)

“Ketahuilah, sesungguhnya nikmat iman tidak dirasakan hingga seseorang menyadari bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin salah, dan apa yang tidak menimpanya tidak akan menimpanya.”

Ali Ibn Abu Thalib
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam al-Qadr, dan juga oleh Ibn Asakir.

Dikutip dari buku Kisah Hidup Ali Ibn Abu Thalib karangan Dr. Musthafa Murad, penerbit Zaman.

herteennordiawan:

The smiling presidents.. Just love the pic.. ;))

herteennordiawan:

The smiling presidents.. Just love the pic.. ;))

(via zelinavenesia)

Memang benar, seperti pepatah lama mengatakan, kemurahan hati dimulai di rumah.

Keluarga adalah sekolah kasih sayang karena disinilah kita belajar untuk hidup dengan orang lain.

Membuat kehidupan keluarga yang penuh kasih adalah salah satu cara bagi kita semua untuk memberi kontribusi konstruktif kepada masyarakat yang lebih empatik pada masa depan

—Beberapa petikan yang saya ambil dari buku seorang sastrawan dan sejarahwan, Karen Amstrong, berjudul Compassion.

putricharisma:

Happy Birthday, my dear @jamikanasa :) May Allah bless you in every steps you take. Amin.

Terima kasih, puchy.Semoga ukhuwah ini semakin erat yahSemoga kita selalu saling mengingatkan Dan menguatkan.Love to have you ♥

putricharisma:

Happy Birthday, my dear @jamikanasa :) May Allah bless you in every steps you take. Amin.

Terima kasih, puchy.
Semoga ukhuwah ini semakin erat yah
Semoga kita selalu saling mengingatkan
Dan menguatkan.

Love to have you ♥

“Not letting our mood affect the way we treat people is a forgotten sunnah.”
—Ustadh Nouman Ali Khan (via iqranazir)

(Source: heartheraindrops-fall, via zakyamirullah)

zulfikarfirdaus:

KISR ON DUTY Ramadhan #27

zulfikarfirdaus:

KISR ON DUTY Ramadhan #27

sakinahamelia:

taufiqsuryo:

mari kita lawan pornografi, mulai dari lingkungan terdekat kita !

Belajar menjadi orang tua,

barangkali bangku kuliah tidak mengajarkannya ,tapi menjadi orangtua yang baik dan telada bagi generasi di zaman masi kini lebih menangtang dari profesi apapun yang ada..

(via vicadwiputri)

tumbr1:

Jadilah orang kuat! :) – View on Path.

tumbr1:

Jadilah orang kuat! :) – View on Path.

thepiercingstar:

ahappymuslimah:

leesleftarm:

lalnascastle:

IF YOU DONT GET EXCITED OVER NATURE THEN WHAT DO YOU EVEN GET EXCITED ABOUT

I LOVE THE WHOLE WORLD IT’S SUCH A BRILLIANT PLACE BOOMDEYADAH BOOMDEYADAH BOOMDEYADAH

What favours did you deny? 

So which of the favors of your Lord would you deny? -… SubhanAllah :’)

(Source: terra-mater)

«back
Do I Really Deserve You?
Design by Athenability
Powered by Tumblr