This night is flawless, don’t you let it go
I’m wonderstruck, dancing around all alone
I’ll spend forever wondering if you knew:
I was enchanted to meet you
Please don’t be in love with someone else
Please don’t have somebody waiting on you.

Taylor Swift - Enchanted.


Volunteer Doctors (VOL-D) with Forum Indonesia Muda (FIM) Regional Bandung & BEM Unpad
proudly present:
VOL-D TALK: Volunteer Diversity Talkshow
25 Oktober 2014 | Pukul 08.00-16.00 Gedung 1 Universitas Padjadjaran, Kampus Dipati Ukur, Bandung
HTM: Rp. 20.000 (termasuk makan siang & sertifikat)
Contact Person : Maya (085718364545)
Yukkkk merapaaaatt!!! :D

Volunteer Doctors (VOL-D) with Forum Indonesia Muda (FIM) Regional Bandung & BEM Unpad

proudly present:

VOL-D TALK: Volunteer Diversity Talkshow

25 Oktober 2014 | Pukul 08.00-16.00
Gedung 1 Universitas Padjadjaran, Kampus Dipati Ukur, Bandung

HTM: Rp. 20.000 (termasuk makan siang & sertifikat)

Contact Person : Maya (085718364545)

Yukkkk merapaaaatt!!! :D

(via tausendsunny)

Bumi senang sekali bercanda. “Duniawi”, katanya. Padahal dalam tawanya, beribu tanda dan makna berebut suara. Paham atau tidak, tergantung kita. Mau jadi yang bagaimana, atau mau percaya siapa? Satu saja kuncinya: Peka.

Kusimpulkan: Jangan ikut tertawa bersamanya!

Deklarasi, Bukan Asumsi.

Ya, aku sependapat denganmu. Memahami berbagai pertanda ini, sungguh sulit. Kadang, ia bahkan sampai mengabiskan seluruh energi kita. Akhirnya kita menyesal, merasa telah membuang perhatian dan waktu pada hal yang tak serahusnya kita beri. Berkutat pada pikiran sendiri. Menyalahkan diri, situasi dan kondisi. Hey, tidak ada yang salah, bukan?

Tapi kita sama-sama tahu. Sejauh apapun jarak, sebesar apapun beda, diantara kita tak pernah ada jeda. Kita selalu merasa, meski tak pernah bertegur sapa. Kita selalu ada. Aku selalu hadir. Kamu tidak pernah absen. Sadar ataupun tidak : rindu ini permanen!

Kita sama-sama tahu, meski sama-sama ragu. Proses ini sungguh terjal dan kaku. Penuh debat dan kode ambigu. Lama………mungkin sampai masing-masing dari kita bertransformasi menjadi batu. Tak masalah. Toh, kita sama-sama menghargai proses. Proses yang baik akan berujung pada hal-hal yang baik, manfaat dan hikmah yang baik pula. Hasil yang tidak sesuai ekspektasi, bisa jadi, yang terbaik sedang mengantri.

Ya, aku sependapat denganmu. Memahami berbagai pertanda ini, sungguh sulit, aplikasinya, apalagi. Tulisan ini bisa jadi tanda. Entahlah, akupun tak habis pikir mengapa menganggap tulisan ini sebagai sebuah deklarasi. Maka dengan ini, semoga sampai makna dan arti, tepat pada mata dan rasa yang selama ini mencari. Atau menunggu. Atau berhenti?

Kita sama-sama tahu. Sebentar lagi akan bertemu.

Kita………… sama-sama tahu, benarkah?

Bandung, 15 Oktober 2014
Bumi senang sekali bercanda, padahal dalam tawanya, sungguh pertandaNya luar biasa.

Jamika Nasaputra.

Aku senang melihatmu tumbuh besar. Meski kadang aku ngeri. Semakin kau besar, semakin cepat tandanya, aku meninggalkanmu. 
Semoga Allah selalu beri kita kesempatan untuk merajut temu, ya. Dalam padat dan sibuknya mencari makna, aku akan selalu mengingatmu, satu-persatu. Beserta sejuta kenangan semenjak pertama kita jumpa: balai RW, tepuk warna, dan drama putri salju.
Orang dewasa memang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Meng-iya-kan segala yang ia pikir bisa memupuk ilmu dan membina potensi. Supaya bermanfaat katanya. Padahal, belum tentu ya. Tapi berusaha itu perlu. Dan karenanya, kadang aku harus meninggalkanmu. Maafkan.
Tapi tenang saja. Akan selalu ada yang menjagamu dalam angin yang meniup rambut tipismu: doa ibumu. Dan langit-langit senja yang kutitipkan baris namamu.
Selamat tumbuh besar dan dewasa, tentunya. Jangan berhenti bermain dan berpetualang, ya. Kau tau, menuliskanmu adalah salah satu caraku mengabadikan cerita dan cintaku padamu.
Bandung, 15 Oktober 2014Meski padat deadline ujian tengah semester, selalu mampir sedikit rindu padamu.
Jamika Nasaputra

Aku senang melihatmu tumbuh besar. Meski kadang aku ngeri. Semakin kau besar, semakin cepat tandanya, aku meninggalkanmu.

Semoga Allah selalu beri kita kesempatan untuk merajut temu, ya. Dalam padat dan sibuknya mencari makna, aku akan selalu mengingatmu, satu-persatu. Beserta sejuta kenangan semenjak pertama kita jumpa: balai RW, tepuk warna, dan drama putri salju.

Orang dewasa memang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Meng-iya-kan segala yang ia pikir bisa memupuk ilmu dan membina potensi. Supaya bermanfaat katanya. Padahal, belum tentu ya. Tapi berusaha itu perlu. Dan karenanya, kadang aku harus meninggalkanmu. Maafkan.

Tapi tenang saja. Akan selalu ada yang menjagamu dalam angin yang meniup rambut tipismu: doa ibumu. Dan langit-langit senja yang kutitipkan baris namamu.

Selamat tumbuh besar dan dewasa, tentunya. Jangan berhenti bermain dan berpetualang, ya. Kau tau, menuliskanmu adalah salah satu caraku mengabadikan cerita dan cintaku padamu.

Bandung, 15 Oktober 2014
Meski padat deadline ujian tengah semester, selalu mampir sedikit rindu padamu.

Jamika Nasaputra

kurniawangunadi:

Samsoe Bassaroedin dan Yayah Inayah: Merintis Kasih di Penghujung Senja

Ini adalah kisah cinta paling mengharukan di kalangan aktivis Masjid Salman ITB, keduanya bertemu di usia senja. Pagi ini saya membaca lagi di laman salmanitb.com. Ini sudah dua tahun yang lalu ceritanya, tapi hikmahnya masih bergema hingga saat ini.
Mas Samsoe yang super strict kalau ngatur barisan shalat, dua hari yang lalu ketika Ashar berjamaah di salman, beliau menyuruh barisan akhwat di lantai atas untuk turun semua ke lantai utama karena barisan utama akhwat di lantai utama masih longgar, hahaa. 
Silakan klik judulnya, semoga memberi pembelajaran.


Pagi-pagi tersuguhi cerita romantis. Selamat pagi! :)

kurniawangunadi:

Samsoe Bassaroedin dan Yayah Inayah: Merintis Kasih di Penghujung Senja

Ini adalah kisah cinta paling mengharukan di kalangan aktivis Masjid Salman ITB, keduanya bertemu di usia senja. Pagi ini saya membaca lagi di laman salmanitb.com. Ini sudah dua tahun yang lalu ceritanya, tapi hikmahnya masih bergema hingga saat ini.

Mas Samsoe yang super strict kalau ngatur barisan shalat, dua hari yang lalu ketika Ashar berjamaah di salman, beliau menyuruh barisan akhwat di lantai atas untuk turun semua ke lantai utama karena barisan utama akhwat di lantai utama masih longgar, hahaa.

Silakan klik judulnya, semoga memberi pembelajaran.

Pagi-pagi tersuguhi cerita romantis. Selamat pagi! :)

Catatan Harian : Tiga Tahun, Tiga Bulan.

Kali ini, tiada yang lebih mengejutkan dibandingkan dengan perubahan yang tidak disadari. Sedikit kicau dan kontemplasi: Tiga tahun tiga bulan.

Playlist iTunes masih sama. Dewa 19, Westlife, dan Sheila On 7. Seperti anak kemarin, bingung tak kenal rute tujuan. Tersesat di jalan. Bingung harus makan ditempat atau dibungkus saja. Segelas kopi atau teh. Terlambat olah raga akhirnya wacana. Pagi tak terencana. Selalu begitu.

Ibu di depan kos masih saja berjualan nasi kuning. Sebungkus, hanya tiga ribu. Aku masih saja jualan kue. Begadang dan ketiduran. Deadline dan rutinitas. Begini-begini saja.

Bapak penjaga warung tampak lebih muda. Oh, bukan. Ternyata bukan yang biasanya. Mungkin, itu adiknya. Atau anaknya? Tiga tahun tiga bulan.

Terakhir bertemu Bapak dan Ibu, lebaran kemarin. Senyum dan sayangnya masih sama. Tidak ada yang berubah, kecuali ubannya. Kecuali keriputnya. Kecuali…………. Tiga tahun tiga bulan.

Bandung semakin romantis. Taman-taman baru. Jiwa-jiwa muda yang semakin pro-aktif dan produktif. Gerakan sosial menjamur, reaktif. Peduli dan empati sedang menjadi tren masa kini. Selfie. Media sosial yang secara otomatis mendeteksi keberadaan diri. Semakin cepat kebutuhan terfasilitasi, hingga bias antara yang penting dengan yang tidak, yang butuh dengan yang ingin, yang katanya aktualisasi dengan yang murni peduli.

Bias sudah biasa. Abu-abu sudah tak lagi tabu. Tiga tahun tiga bulan.

Yessa sudah beranjak dewasa. Sudah lancar membaca. Rara sudah mau kelas dua. Semakin tinggi dan manis kala tertawa. Malu-malu bila diajak bicara. Dedek sudah semakin besar. Dimas semakin baik dan pintar. Arif dan Vinny sudah pindah tanpa sempat ku antar. Ah, sudah lama mungkin aku tak mampir meski sebentar. Tiga tahun tiga bulan.

Aku masih ingat ketika tangan-tangan mungilnya menggenggam erat, seakan takut lepas tak terikat. Atau bulan yang bercerita tentang hidupnya yang berat. Sembunyinya di balik punggungku bila bertemu selain kerabat. Salam dan peluk yang selalu menunggu dan ditunggu. Bila aku datang, disambutnya dengan riang. Tiga tahun tiga bulan.

Dua puluh satu. Rasanya baru kemarin tes SIM-C. Mengulang berkali-kali sampai di hafal Pak Polisi. Dua puluh, sembilan belas, delapan belas, beserta memori yang membekas. Mawar merah muda, lampu-lampu kota, syal biru dalam tas.

Selamat menjalani hidup yang baru. Tak terasa, kita semua beranjak dewasa. Rasanya dunia berputar biasa saja. Sehari tetap 24 jam, setahun tetap 365 hari. Mungkin rutinitas membuat mata kita terbatas. Berhenti pada pikiran dan kenangan lama. Padahal sepersekian detik hembus nafas, segala yang ada bisa saja kandas : rindu dan cinta dalam gelas. Bening yang mengeruh. Penuh. Peluh dan keluh. Berbeda yang nampak sama.

Perubahan yang tak pernah disangka. Tiga tahun tiga bulan.

Selamat mengerjakan TA. Semoga akhir tak berarti berakhir. Perjuangan bukan karena buangan. Bukan terpaksa mengais semangat. Bukan sekedar lulus dan dapat sertifikat. Tujuh bulan kedepan, semoga selalu diberi rahmat dan kekuatan.

Tiga tahun tiga bulan. Rasanya, baru kemarin aku datang.

Bandung, 13 Oktober 2014
Jamika Nasaputra.

Islam didn’t make it Haram for you to fall in love. It didn’t forbid you from wanting someone. It only guides that love so it protects you, her, your families and especially saves you from humiliation on judgment day. If you love her so much, why are you ok with letting her engage in this questionable relationship knowing full well that she will have to answer Allah just like you will. You don’t love her enough to save her from that?

Ustadh Nouman Ali Khan

(via kurniawangunadi)

(via fildzahamalya)

Hening Senja

Hening senang sekali berbicara.
Tentang senja dan warna miliknya.
Jingga antara tanah dan angkasa.
Katanya, itu uap-uap asa.
Rasa yang mengepul dalam doa-doa.
Katanya, rasa itu tak mengenal bahasa.
Maka jangan berkata, sedikitpun.

Hening senang sekali mengadu.
Tentang senja dan warna ungu.
Katanya, langit sedang rindu.
Pada dentum-dentum yang beradu.
Sehalus udara dalam rongga paru-parumu:
Cinta yang tak berbatas waktu.

Bahasa itu hanya perantara.
Sebab senja itu rasa, dan rasa tak mengenal bahasa.
Maka jangan berkata, sedikitpun.

18 September 2014
‎@jamikanasa
Ditulis semenjak senja, diantara Bandung-Bogor.

annisaakisr:

Assalamualaikum, Annisaa.. Setiap wanita dilahirkan untuk menjadi seorang ibu.Menjadi ibu bukan sebuah pilihan, tetapi tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi berkualitas.Bukan pilihan, tetapi keikhlasan dan kesediaan untuk berkorban mendapat surga kenikmatan. 
Maka, Sudah siapkah kita?

So.. What will you say if you become a mother?
Jum’at, 10 Oktober 2014  Pk. 11.00-13.00 @ Selasar Pilotis Geodesi Bersama Ibu Ira (Dosen Seni Rupa ITB)
Untuk seluruh arsitek peradaban, calon-calon bunda, pendidik generasi mulia.
@annisaaitb Gamais Itb KISR ITB


Yuk, bunda :)

annisaakisr:

Assalamualaikum, Annisaa..
Setiap wanita dilahirkan untuk menjadi seorang ibu.
Menjadi ibu bukan sebuah pilihan, tetapi tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi berkualitas.
Bukan pilihan, tetapi keikhlasan dan kesediaan untuk berkorban mendapat surga kenikmatan.

Maka,
Sudah siapkah kita?

So..
What will you say if you become a mother?

Jum’at, 10 Oktober 2014 
Pk. 11.00-13.00 @ Selasar Pilotis Geodesi
Bersama Ibu Ira (Dosen Seni Rupa ITB)

Untuk seluruh arsitek peradaban, calon-calon bunda, pendidik generasi mulia.

@annisaaitb Gamais Itb KISR ITB

Yuk, bunda :)